Kamis, 21 Januari 2010

SEBUAH CERITA DARI DEL PIERO: MENGGUNAKAN BAJU BERNOMOR 7



Ketika aku masih kecil hanya ada Padova dan belum bernama Padova saat itu. Sebuah daerah bernama Basilica of Sant’Antonio, memiliki lapangan yang penuh dengan merpati, dimana aku melakukan kunjungan sekolah bersama orang. San Vedimiano hanya berjarak sekitar 77 km dari Padova, namun bagiku itu merupakan perjalanan yang sangat jauh.



Saat ini ketika aku kembali mengingatnya, aku sadar jika 77 km itu merupakan jarak yang sangat jauh antara masa kecil yang akan aku tinggalkan untuk menjadi seorang pria. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berada jauh dari rumah, hanya mengikuti kemana arah bola, yang tak pernah meninggalkanku sendirian. Aku berumur 13 tahun, dan kostum bernomor punggung 10 di Juventus masih dikenakan oleh Zavarov, dan aku belum memilikinya, tak pula di Padova, aku bermain di tim muda mereka, dan pada saat itu aku mengenakan nomor 7 di bajuku, nomor yang sama ketika aku memenangkan piala dunia di Berlin.

Aku menghabiskan 10 tahunku di Padova, 10 tahun sebagai seorang pemuda yang meninggalkan keluarganya di San Vendemiano, dengan sebuah harapan, keberanian, antusiasme dan ambisi didalam hatinya. Serta keinginan kuat untuk bermain. Aku melihat hal itu seperti aku menginginkan untuk menjadi bagian dari dunia, namun bagiku jalan yang aku tempuh benar-benar sesuatu yang besar, karena itu merupakan tanda perpisahan.

Ibuku masih ingat ketika aku pertama kalinya pergi dengan kereta api dan ia memberiku banyak saran: “Jangan terlalu dekat dengan orang lain dan berhati-hatilah”, aku berganti kereta di Mestre dan disana aku harus menunggu kereta selanjutnya selama 30 hingga 40 menit. Kemudian, orang tuaku datang untuk menjengukku di Padova dan giliranku untuk mengajari mereka: “Berhati-hatilah di Mestre saat membeli karcis.” Ibuku berkata pada saat itu dan ia sadar aku telah beranjak dewasa. Aku tumbuh dewasa dengan orang lain, berbagi flat yang jaraknya tak jauh dari Stadion Appiani. Dan disini pula aku melewati berbagai macam tantangan, dari tim muda ke Allievi dan akhirnya ke Primavera.



Kejadian yang sama juga terjadi di tim nasional: U16, U17 (ini kejuaraan dunia pertama dalam karirku di Montecatini, aku melakukan debut saat melawan USA melewati 2 hari disana dengan temperature yang tinggi, dan aku gagal mengambil pinalti di depan Pele yang saat itu duduk di tribun), dan akhirnya U18. Aku ingat dengan jelas di laga mingguan melawan tim utama di tahun itu, ketika aku menghadapi pemain-pemain hebat seperti Albertini, Di Livio, Maniero, Benarrivo, dan Galderisi.



Disana aku belajar untuk memahami, bahwa aku dapat berkompetisi. Pada tanggal 15 Mei 1992, di Giovanni Celeste Stadium, aku mengenakan kostum Padova melakoni debut pertamaku di Serie-B di pertandingan melawan Messina, dengan Bruno Mazzia sebagai pelatih di sisi lapangan. Terlepas dari itu, hari itu aku benar-benar merasakan emosi dari gol pertamaku sebagai pemain professional, satu-satunya gol bagi klubku, tanpa kostum Juventus. Pada tanggal 22 November 1992, Mauro Sandreani kembali menurunkanku untuk bermain melawan Ternana dan aku mencetak kemenangan 5-1. Nomor bajuku saat itu 16 (ngomong-ngomong, berapa jumlah 1+6?)

* dari milist juvenistina@yahoogroups.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar